Friday, June 3, 2011

PAPER KELAS XI B IPS "Erna"

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari perekonomian sangat berperan penting untuk kelangsungan hidup setiap manusia. Setiap orang akan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masing-masing cara yang dapat di tempuhnya adalah dengan cara bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan serta kebutuhan lain seperti kendaraan, penerangan dan hiburan. Setiap manusia mempunyai sifat ingin mencapai suatu tingkat kesejahteraan tertentu. Sifat selanjutnya adalah bahwa mereka akan selalu mempunyai keinginan untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi daripada yang mereka peroleh pada masa sekarang. Sifat ini berlaku bagi semua orang baik orang miskin maupun yang sudah kaya.
Maka untuk memacu semangat manusia untuk tidak malas bekerja, sehingga dapat membiayai kehidupannya, di tegaskan dalam  Q.S Al-Furqan/25 : 47 yang berbunyi :

سُبَاتاً لِبَاس اللَّيْلَ اً لَكُمُ جَعَلَ الَّذِي وَهُوَ

نُشُوراً النَّهَارَ وَالنَّوْمَ وَجَعَلَ

Artinya :
Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (Q.S Al-Furqan/25:47)
Dalam ayat di atas dapat disimpulkan bahwa setiap manusia harus bekerja keras dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Di sekitar Mesjid Agung Demak misalnya, masyarakatnya mau bekerja keras akibatnya kehidupan perekonomian masyarakat lebih meningkat di bandingkan sebelum berdirinya Mesjid Agung Demak. Maka dari itu, penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai pengaruh Mesjid Agung Demak terhadap kehidupan perekonomian masyarakat Desa Bintoro Kecamatan Demak.

B. Perumusan Masalah
Untuk membatasi permasalahan yang diteliti dan lebih terarah dalam penyusunan paper ini, maka penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana kehidupan perekonomian masyarakat Desa Bintoro sebelum dan sesudah berdirinya Mesjid Agung Demak ?
2.      Kegiatan apa yang dilakukan masyarakat Demak dalam peningkatan ekonomi?
C. Alasan dan Tujuan Penelitian
1. Alasan Penelitian
Alasan yang di lakukan penulis dalam penelitian ini adalah :
a.       Melaksanakan tugas dari sekolah
b.      Untuk melengkapi salah satu syarat mengikuti UN/UM
c.       Untuk mengetahui kehidupan perekonomian masyarakat di sekitar Mesjid Agung Demak
2. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang di lakukan penulis adalah :
a.       Untuk mengetahui kehidupan perekonomian masyarakat Desa bintoro sebelum dan sesudah berdirinya Mesjid Agung Demak
b.      Untuk mengetahui kegiatan apa yang dilakukan masyarakat Demak dalam peningkatan ekonomi



D. Metode dan Teknik Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan penulis metode deskriftif yaitu metode penelitian status, sekelompok manusia, objek, kondisi, ataupun peristiwa yang ada di masa sekarang (Idianto Muin : 2006 :110).
2. Teknik Penelitian
Teknik adalah alat yang digunakan untuk mengungkapkan, memperoleh data yang dibutuhkan dalam rangka menemukan masalah sebenarnya. (Tanjung dkk : 1990 :12).
Berdasarkan penyusunan paper ini penulis menggunakan teknik sebagai berikut :
a. Observasi adalah mengadakan penelitian dengan jalan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian (Wayan N :1986 : 46).
b. Wawancara adalah suatu proses untuk memperoleh keterangan mengenai objek penelitian dengan cara tanya jawab secara langsung (Idianto Muin : 2006 : 110).
c. Survey book adalah proses untuk mencari data dengan mencari buku yang sesuai dengan masalah yang sedang di bahas.
d. Dokumentasi adalah catatan peristiwa yang sudah berlaku yang berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. (Sugiono 2007 : 329).
E. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam penyusunan paper ini, penulis menggunakan sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I       : Pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, alasan dan tujuan penelitian, metode dan teknik penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II      : Tinjauan teoritis tentang pengaruh Mesjid Agung Demak terhadap kehidupan perekonomian masyarakat Desa Bintoro kecamatan Demak, yang terdiri dari : pengertian pengaruh, pengertian mesjid, pengertian Demak, pengertian ekonomi, dan pengertian masyarakat.
BAB III : Kondisi objektif hasil penelitian yang terdiri dari : letak geografis, sejarah singkat, kehidupan perekonomian masyarakat Desa Bintoro sebelum dan sesudah berdirinya Mesjid Agung Demak, kegiatan yang dilakukan masyarakat Demak sebelum dan sesudah berdirinya Mesjid Agung Demak.
BAB IV : Penutup yang terdiri dari : kesimpulan dan saran.

















BAB II
TINJAUAN TEORITIS TENTANG PENGARUH MESJID AGUNG DEMAK TERHADAP KEHIDUPAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT DESA BINTORO KECAMATAN DEMAK

A.    Pengertian Pengaruh
Menurut Badudu dan Zain (1994, 1031)
1. Daya yang menyebabkan sesuatu yang terjadi.
2. Sesuatu yang dapat membentuk atau mengubah yang lain.
3.Tunduk (mengikuti) karena kuasa atau kekuatan orang lain.
Pengaruh adalah daya yang timbul dari sesuatu yang ikut membentuk watak kepercayaan atau perbuatan seseorang. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991 : 77)
B. Pengertian Mesjid
Mesjid berasal dari akar kata ‘’sajada’’, dimana sajada berarti sujud atau tunduk. Kata mesjid sendiri berasal dari bahasa Arab. Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke-5 SM, kata masgid (m-s-g-d) ini berarti tiang suci’’ atau tempat sembahan’’. Kata mesjid dalam bahasa Inggris disebut mosque. Kata mosque ini berasal dari kata mezquita dalam bahasa Spanyol. Dan kata mosque kemudian menjadi populer dan di pakar dalam bahasa Inggris secara luas. Adapun pengertian Mesjid Agung adalah mesjid besar atau mesjid utama sebagai tempat peribadahan umat Islam yang ada di kota Madya / kota dan biasanya berada di tengah kota.
Mesjid adalah rumah tempat ibadah umat muslim. Mesjid artinya tempat sujud, dan mesjid berukuran kecil juga disebut mushola, langgar atau surau. Selain tempat ibadah mesjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan-kegiatan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah, dan belajar Al-Qur’an sering dilaksanakan di mesjid. Bahkan dalam sejarah Islam, mesjid turut memegang peranan dalam aktivitas kemasyarakatan hingga kemiliteran.
Bentuk umum dari sebuah mesjid adalah keberadaan menara-menara. Menara asal katanya dari bahasa Arab ‘’nar’’ kejauhan. Menara mesjid biasanya tinggi dan berada dibagian pojok dari komplek mesjid. Menara bertujuan sebagai  tempat muadzin mengumandangkan adzan. Selain menara, kubah juga merupakan satu ciri khas dari sebuah mesjid. Seiring waktu, kubah diperluas menjadi sama luas dengan tempat ibadah dibawahnya. Walaupun kebanyakan kubah memakai bentuk setengah bulat, mesjid didaerah India dan Pakistan memakai kubah berbentuk bawang.
Tempat ibadah atau ruang shalat, tidak diberikan meja atau kursi, sehingga memungkinkan para jema’ah untuk meangisi shaf atau barisan-barisan yang ada didalam ruang shalat. Bagian ruang shalat biasanya diberi kaligrafi dan potongan ayat Al-Qur’an untuk memperlihatkan keindahan agama Islam, serta Al-Qur’an. Ruang shalat mengarah kearah Ka’bah sebagai kiblat umat Islam. Di mesjid juga terdapat mihrab dan mimbar. Mihrab adalah tempat imam memimpin shalat, sedangkan mimbar adalah tempat khatib menyampaikan khutbah .
Dalam komplek mesjid, didekat ruang shalat, tersedia ruang untuk menyucikan diri atau biasa disebut tempat wudlu dibeberapa mesjid kecil, kamar mandi digunakan sebagai tempat untuk wudlu. Sedangkan dimesjid tradisional, tempat wudlu biasanya sedikit terpisah dari bangunan mesjid.
C. Asal Usul Nama Demak
Berdasarkan beberapa pendapat asal mula kata “ Demak “ di artikan sebagai berikut :
a.    Menurut Prof. Purbotjaroko
Demak berasal dari kata “ Dalemak “ yang artinya “tanah yang mengandung air “ (Rawa).
b.    Menurut Prof. R. M. Sutjipto Wiryoauparto
Demak berasal dari bahasa Kawi yang artinya pegangan atau pemberian.
c.    Menurut Slamet Mulyana
Demak diartikan anugrah atau ganjaran, yaitu anugrah dari Prabu Kertabumi yang di berikan kepada Raden Fatah atas bumi bekas hutan Gelegeh Wengi.
d.   Menurut Prof. Dr. Purbatjaraka
Demak berasal dari kata “ Delemak ” dari bahasa sansekerta yang artinya tanah yang mengandung air dan di seluruh tanah jawa hanya ada satu tempat yang namanya berasal dari bahasa Arab yaitu kudus (Al-Quds).
e. Menurut Solichin Salam dalam bukunya “ Sekitar Walisongo ” menyatakan bahwa Prof. Dr. Hamka berpendapat kota Demak adalah berasal dari bahasa Arab “ Dimak “ yang artinya air mata, menggambarkan kesulitan dalam menegakan agama Islam pada waktu itu. 
D. Pengertian Ekonomi
Ekonomi adalah sistem aktifitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Kata ekonomi sendiri berasal dari kata yunani (Oikos) yang berarti keluarga, rumah tangga, dan (Nomos), atau peraturan, aturan hukum, dan secara garis besar diartikan sebagai aturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga. Sementara yang di maksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang yang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja. Ilmu yang mempelajari ekonomi disebut sebagai ilmu ekonomi.
Ilmu ekonomi menurut M. Manulang merupakan suatu ilmu yang mempelajari masyarakat dalam usahanya untuk mencapai kemakmuran (kemakmuran suatu keadaan dimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya baik barang-barang maupun jasa).
Ilmu ekonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik secara individual maupun secara kelompok dalam menggunakan semua faktor produksi yang tersedia, untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan.
Dalam ilmu ekonomi sifat yang sangat penting bagi manusia adalah ingin mencapai suatu tingkat kesejahteraan tertentu. Sifat selanjutnya adalah bahwa mereka akan selalu mempunyai keinginan untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, daripada yang telah mereka peroleh pada masa sekarang. Sifat ini berlaku bagi semua orang baik orang miskin maupun orang yang sudah kaya dan bagi negara yang belum maju maupun yang sudah maju, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Jepang.
Di lain pihak, ternyata faktor-faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat apabila dibandingkan dengan kebutuhan dari seluruh masyarakat adalah relatif terbatas jumlahnya. Oleh karena itu, jumlah barang dan jasa yang dapat di hasilkan oleh faktor-faktor produksi juga akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah barang dan jasa yang di butuhkan seluruh masyarakat.
Jadi, di satu pihak terdapat kebutuhan akan barang-barang dan jasa yang tidak terbatas jumlahnya, tetapi di lain pihak terdapat jumlah faktor-faktor produksi yang sangat terbatas untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa tersebut. Kedua keadaan yang bertentangan inilah yang menyebabkan timbulnya masalah ekonomi.
E. Pengertian Masyarakat
Masyarakat berasal dari bahasa Aram yaitu Musyarak. Masyarakat memiliki arti sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau terbuka.
Masyarakat terdiri atas individu-individu yang saling berinteraksi dan saling bergantung satu sama lain atau disebut Zoon Polticon. Dalam proses pergaulannya, masyarakat akan menghasilkan budaya, yang selanjutnya akan dipakai sebagai sarana penyelenggaraan kehidupan bersama. Oleh sebab itu, konsep masyarakat dan konsep kebudayaan merupakan dua hal yang senantiasa berkaitan dan membentuk suatu sistem.
Berikut ini adalah beberapa pengertian masyarakat dari beberapa ahli sosiologi dunia :
1.    Menurut Selo Sumardjan
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2.    Menurut Karl Marx
Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3.    Menurut Emile Durkheim
Masyarakat merupakan suatu kenyataan objek pribadi-pribadi yang merupakan anggota-anggotanya.
4.    Menurut Paul B.Horton dan C.Hunt
Masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat di lihat bahwa masyarakat merupakan organisasi manusia yang selalu berhubungan satu sama lain dan memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
1.    Orang-orang dalam jumlah relatif besar saling berinteraksi baik antara individu dengan kelompok maupun antar kelompok sehingga menjadi satu kesatuan sosial budaya.
2.    Adanya kerjasama yang secara otomatis terjadi dalam setiap masyarakat baik dalam skala kecil (antara individu) maupun dalam skala luas (antar kelompok). Kerja sama ini meliputi berbagai aspek kehidupan seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
3. Berada dalam wilayah dengan batas-batas tertentu yang merupakan wadah tempat berlangsungnya suatu tata kehidupan bersama.
4. Berlangsung dalam waktu relatif lama, serta memiliki norma sosial tertentu yang menjadi pedoman dalam sistem tata kelakuan dan hubungan warga masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya.




















BAB III
KONDISI OBJEKTIF HASIL PENELITIAN
A.  Letak Geografis
Di lihat dari letak geografisnya Demak merupakan salah satu kota yang terletak di pantai utara Jawa Tengah. Daerah tersebut mempunyai status kabupaten yang terletak 45 km sebelah utara kota Semarang. kota Demak yang luasnya 40.114.608 ha ini merupakan daerah perlintasan yang menghubungkan daerah-daerah sekitarnya. Kota Demak dapat di tempuh dari segala jurusan, letak geografis kota Demak adalah :
Sebelah utara    : kota Jepara
Sebelah barat     : kota Semarang
Sebelah timur    : kota Kudus
Sebelah selatan : kota Purwodadi
Kota Demak jika dari Semarang dapat di tempuh dengan jarak 25 km, jarak dari kota Jepara ke kota Demak adalah 35 km, sedangkan jarak dari kota Kudus ke kota Demak yaitu 24 km. Mesjid Agung Demak sendiri terletak di desa Bintoro kecamatan Demak kota kabupaten Demak.
B.  Sejarah Singkat Mesjid Agung Demak
Mesjid Agung Demak yang terletak di tengah-tengah kota Demak oleh masyarakat Indonesia, khususnya kaum muslimin di kenal dengan nama “ Mesjid Wali ’’, karena menurut cerita kuno sejarah jawa, bahwa bangunan mesjid tersebut di dirikan oleh para wali yang lebih di kenal dengan sebutan “ Walisongo atau Walisembilan ” secara bersama-sama dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.
Mesjid Agung Demak yang besarnya berukuran, bagian dalam 31x31 Meter, bagian serambi 31x15 Meter dan ketinggian soko gurunya 19,54 Meter dan bagian tengah seperti lazimnya bangunan, ditopang oleh empat tiang raksasa. Salah satu diantaranya tidak terbuat dari satu batang kayu utuh, tetapi disusun dari beberapa potongan kayu jati kecil-kecil yang kemudian diikat menjadi satu dan dibentuk seperti yang lainnya. Tiang inilah yang dikenal dengan nama “ Soko Tatal “.
Dikisahkan dalam legenda bahwa Soko Tatal tersebut adalah sumbangan Sunan Kalijaga. Rupanya Soko ( tiang) itu disusun dari potongan-potongan kayu balok yang tersisa dari pekerjaan wali-wali lainnya. Berhubung pada malam itu Sunan Kalijaga datang terlambat, oleh karena ia tidak dapat menghasilkan suatu pekerjaan yang utuh. Dalam cerita rakyat selanjutnya menyatakan bahwa Sunan Kalijaga ternyata  kedudukan penting dalam ikut mendirikan Mesjid Demak itu, karena dialah yang berjasa dalam membetulkan arah kiblat mesjid (mengarah ke Ka’bah di Mesjidil Haram Mekkah).
Hingga saat sekarang, Masjid agung Demak itu menjadi pusat perhatian umat Islam, dan dianggap sebagai mesjid suci, bahkan ada sebagian orang yang beranggapan pula bahwa mengunjungi Mesjid Demak dan menziarahi orang-orang suci yang dimakamkan dikomplek mesjid dapat disamakan dengan pahala naik haji ke Mekkah. Meskipun anggapan tersebut sampai sekarang belum ditemukan landasan keagamaannya.
Berdasarkan cerita-cerita rakyat yang masih hidup bahwa bagi umat Islam, Mesjid Demak mempunyai nilai penting di alam pikiran orang Islam (Jawa). Sampai sekarang berdasarkan kenyataan perkembangan sejarah, Mesjid Demak telah menjadi pusat kerajaan Islam pertama di Jawa, khususnya di Jawa Tengah. Menurut tutur rakyat, bahwa Demak yang kemudian menjadi  ibu kota telah didirikan sekitar pertengahan abad ke 15 dengan cepat telah menjadi pusat perdagangan dan pusat lalu lintas laut, terutama kota Demak yang dikelilingi oleh sungai-sungai yang menghubungkan kota Demak dengan pusat-pusat maritim (kelautan), ternyata menjadi pusat ibadah bagi kaum muslimin, utamanya golongan menengah yang baru timbul. Para raja dan segenap pengikutnya saat itu sedang berkobar-kobar semangat keagamaannya dan mereka bahkan menganggap Mesjid Agung Demak sebagai lambang kerajaan mereka.
Menurut tutur rakyat sebagai mana juga disebutkan dalam hikayat Hasanudin (Banten), menyatakan bahwa Mesjid Agung Demak yang menjadi pusat kegiatan Islam Jawa Tengah, maka orang pertama yang menjadi imam shalat di mesjid itu konon adalah Pangeran Bonang putra Pangeran Rahmat dari Ngampel, kemudian dalam kurun tertentu digantikan oleh anaknya, yang bernama Makdum Sampang, terus digantikan oleh Kyai Pembayun, lalu digantikan oleh penghulu Rahmatullah dan akhirnya digantikan oleh Pangeran Kudus dari Ngudung alias Sunan Kudus.
Tentang didirikannya Mesjid Agung Demak ini ada beberapa pendapat yang di dasarkan atas Condrosengkolo yang terdapat didalam mesjid, yaitu :
a.    Pada hari Kamis Kliwon, malam Jum’at Legi bertepatan pada tanggal 1 Dzulhijah tahun Jawa 1428 (1501 M) dengan dasar sebuah tulisan dalam Bahasa Jawa diatas pintu muka, bunyinya sebagai berikut : “ Hadegipun Mesjid Yasanipun Para Wali, Naliko Tanggal 1 Dzulhijah Tahun 1428”.
b.    Berdasar atas gambar bulus yang terdapat di mihrab yang ditafsirkan sebagai berikut :
Kepala    = 1
Kaki       = 4
Badan     = 0
Ekor        = 1
  ___________
Jadi           = 1401
Tahun Soko atau tahun 1479 M, atau dengan “Sariro Sunyi Kiblating Gusti” yaitu diartikan :
Sariro        = 1
Sunyi       = 4
Kiblat       = 0
Gusti         = 1
____________
Jadi           = 1401
c.    Didasarkan atas Condrosengkolo yang terdapat pada pintu Bledeg (petir) sesbagai berikut : “Nogo Sariro Wani” (Nogo Sariro Katon Wani) yang diartikan sebagai tahun Soko 1399 atau tahun 1967 M.
d.   Dalam abad Demak tulisan Atmodarminto, menyatakan Mesjid Agung Demak didirikan pada tahun 1399 tahun Soko atau tahun 1477 M, didasarkan atas Condrosengkolo : “Lawang Terus Gunaning Janmi”.
Kenyataan menunjukan bahwa Mesjid Agung Demak yang terlihat anggun dan antik disertai kewibawaan yang dimiliki dengan gaya arsitektisnya bercorak campuran antara corak kuno dan modern. Menurut tutur rakyat telah mengalami beberapa perbaikan (renovasi), yaitu :
Pertama : berdasar atas prasasti yang ada di depan mesjid berbunyi : “Asri Katon Gapuraning Kamulyan”. Tanggal 21 Juli tahun 1928 M. Pada jaman pemerintahan Bupati Demak Raden Tumenggung Haryo Sastro Hadiwijaya.
Kedua : Berdasar atas prasasti di pintu depan yang berbunyi : “Lawang Panoto Gono Suci atau Broto Ngotopo Sidik Waskito” Tahun 1377 H.
Ketiga : Berdasar prasasti yang terdapat di depan mesjid yang berbunyi : “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa Purna Pamugaran Mesjid Agung Demak”. Yang diresmikan dan ditanda tangani langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Soeharto pada tanggal 21 Maret 1987.
C.  Kehidupan Perekonomian Masyarakat Desa Bintoro Sebelum dan Sesudah Berdirinya Mesjid Agung Demak
Setiap manusia selalu menginginkan kebutuhannya terpenuhi, itu sebabnya kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhannya sangatlah terbatas. Dengan berkembangnya jaman keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan ekonominya pun ikut berkembang. Semua itu akan menunjang masyarakat untuk lebih meningkatkan kehidupan ekonominya.
Demikian pula halnya dengan keadaan masyarakat Desa Bintoro sebelum berdirinya Mesjid Agung Demak, keadaan ekonominya masih sangat rendah karena sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani. Masyarakatnya mempertahankan lahan-lahan untuk bercocok tanam sehingga dapat mencukupi kebutuhan ekonominya. Pendapatan masyarakat Desa Bintoro sebelum berdirinya Mesjid Agung Demak mencapai Rp.100.000 / 3 harinya.
Saat ini perekonomian masyarakat Desa Bintoro sangat berbeda sekali dengan sebelumnya. Setelah berdirinya Mesjid Agung Demak lapangan pekerjaan semakin terbuka luas, sehingga masyarakat memanfa’atkan kesempatan itu untuk berdagang di sekitar Mesjid Agung Demak.
Para peziarah dan pengunjung berpengaruh besar terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Desa Bintoro. Terutama dalam memacu masyarakat untuk lebih berkarya sehingga dapat menghasilkan kerajinan-kerajinan tangan untuk kebutuhan berdagang mereka. Sehingga para peziarah dan pengunjung yang datang tertarik untuk membeli kerajinan tersebut, baik itu untuk menambah koleksi ataupun untuk melengkapi kebutuhan mereka. Kerajinan-kerajinan tersebut diantaranya :
1.      Kaligrafi
      Kaligrafi merupakan tulisan arab yang mengandung nilai seni yang tinggi. Di daerah Demak tulisan kaligrafi di susun di atas kertas kemudian di pasang di dalam bingkai sehingga menjadi hiasan dinding.
2.      Ukiran Kayu
Ukiran Kayu merupakan suatu ukiran yang dibuat diatas kayu dengan berbagai corak. Barang itu juga di gunakan sebagai hiasan dinding.
3.      Tasbih
Tasbih merupakan kerajinan yang dibuat dari plastik maupun kayu yang di bentuk seperti kelereng kemudian disusun dan dirangkai. Kini setelah berdirinya Mesjid Agung Demak penghasilan pedagang yang mulanya Rp 100.000 / 3 harinya lebih meningkat menjadi Rp 50.000 / hari. Namun hasil tersebut di pengaruhi oleh banyaknya pengunjung yang datang setiap harinya. Pada bulan Mulud biasanya paling banyak para wisatawan dan peziarah yang datang ke Mesjid Agung Demak untuk berziarah.

D.  Kegiatan yang dilakukan Masyarakat Demak dalam Peningkatan Ekonomi
Dalam usaha peningkatan ekonominya, masyarakat Demak melakukan berbagai usaha-usaha. Masyarakat yang awalnya bermata pencaharian hanya sebagai petani kini sebagian mulai menggeluti usaha sebagai perdagang. Usaha berdagang yang mereka geluti diantaranya kerajinan tangan, makanan, pakaian, serta berbagai souvenir. Masyarakat Demak melakukan kegiatan berdagang disekitar area mesjid. Dari usaha dagang tersebut penghasilan masyarakat Demak mulai mengalami peningkatan, dikarenakan banyaknya para wisatawan yang datang ke Demak. Biasanya para wisatawan yang datang ke Mesjid Agung Demak, baik yang hanya berwisata ataupun berziarah, menyempatkan diri membeli oleh-oleh yang didagangkan disekitar mesjid. Dagangan yang paling banyak laku dijual biasanya tasbih dan manik-manik buatan Banyuwangi yang banyak diincar pengunjung. Tapi tidak cuma itu, peci buatan Tasikmalaya juga adalah salah satu barang yang paling banyak dicari para peziarah dan wisatawan.









BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Setelah penulis menyelesaikan paper ini bab demi bab, maka penulis dapat mengambil kesimpulan, diantaranya :
1.      Perekonomian masyarakat Desa Bintoro sebelum berdirinya Mesjid Agung Demak masih sangat rendah, karena masrakatnya sebagian besar bermata pencaharian hanya sebagai petani. Perekonomian masyarakat Desa Bintoro setelah berdirinya Mesjid Agung Demak lebih meningkat, karena lapangan pekerjaan pun semakin terbuka luas sehingga masyarakat memanfaatkan kesempatan itu untuk berdagang disekitar Mesjid Agung Demak.
2.      Dalam usaha peningkatan ekonominya masyarakat Desa Bintoro mulai berdagang disekitar mesjid, sehingga kehidupan ekonominya lebih meningkat.
B.       Saran
Selain kesimpulan, penulis juga mengemukakan saran-saran, sebagai berikut :
1.      Kepada para pedagang kebersihan harus lebih dijaga
2.      Kepada pengurus mesjid sebaiknya pengemis jangan sampai masuk kelingkungan mesjid
3.      Mesjid Agung Demak harus selalu dijaga keindahan maupun keunikannya, supaya tetap menarik hati para pengunjung
4.      Pengadaan sarana dan prasarana di Mesjid Agung Demak hendaknya lebih ditingkatkan





DAFTAR PUSTAKA
Rudianto.2004.Pelajaran Ekonomi Untuk Kelas X. Depok :Arya Duta
Kurniawan, Eko Susetyo.2005.Ekonomi untuk SMA Kelas X.Jakarta : Rakyan Adhiputra
Drs. H. Abu. Bakar, Imran.1996.Sejarah Ringkas Kerajaan Islam Demak. Kudus : Menara Kudus













DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN…………………………………………….……….i
HALAMAN PENGESAHAN………………………...…………………………..ii
KATA PENGANTAR…………………………………..………………………..iii
DAFTAR ISI……………………………….…………………….…………… …iv
BAB I : PENDAHULUAN
              A. Latar Belakang Masalah………………....…………………………... 1
               B. Perumusan Masalah……………………………………….………… 2
               C. Alasan dan Tujuan Penelitian…………………………………..…… 2
               D. Metode dan Teknik Penelitian……………….………….….……….. 3
               E. Sistematika Pembahasan…………………………….……....……..... 3
BAB II : TINJAUAN TEORITIS TENTANG PENGARUH MESJID AGUNG DEMAK TERHADAP KEHIDUPAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT DESA BINTORO KECAMATAN DEMAK  
               A. Pengertian Pengaruh…………………………..……………..….…... 5
   B. Pengertian Mesjid……………………………………..………….…. 5
   C. Asal Usul Demak ……………………………………………...……. 6
   D. Pengertian Ekonomi………………………………………...………. 7
   E. Pengertian Masyarakat………………………………………………. 8
BAB III :KONDISI OBJEKTIF HASIL PENELITIAN
A.  Letak Geografis…………........…………...……..…………………. 11
B.  Sejarah Singkat………………………………..…...……………….. 11
C. Kehidupan Perekonomian Masyarakat Desa Bintoro Sebelum dan Sesudah Berdirinya Mesjid Agung Demak…………………………. 14
D.  Kegiatan Yang Dilakukan Masyarakat Demak Dalam Peningkatan Ekonomi............................................................................................. 16
BAB IV PENUTUP
A.    Kesimpulan…………………………………………………………. 17
B.     Saran...........…………………...……………………………………. 17
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 18
LAMPIRAN

























maket.jpeg
Maket Mesjid Agung Demak
mesjid.jpeg
Halaman Depan Mesjid Agung Demak



mesjid 2.jpeg
Menara Mesjid Agung Demak
pntu.jpeg
Pintu Bledeg (petir)


pedagang2.jpeg
Pedagang Tasbih di sekitr Mesjid Agung Demak

pedagang.jpeg
Pedagang souvenirs di sekitar Mesjid Agung Demak


sokoguru.jpeg
                                                Soko Guru (soko tatal)
















PENGARUH MESJID AGUNG DEMAK TERHADAP KEHIDUPAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT DESA BINTORO KECAMATAN DEMAK
PAPER
Diajukan untuk melengkapi salah satu persyaratan Ujian  Nasional Madrasah Aliyah
Tahun Pelajaran 2011/2012

Oleh :
Nama               : Ernawati
NIS                 : 09101023
Kelas/Program : XI-B/IPS









JURUSAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
MADRASAH ALIYAH CIMALAKA SUMEDANG
2011

No comments:

Post a Comment