Friday, June 3, 2011

PAPER KELAS XI B IPS


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Di Indonesia terdapat banyak sekali bangunan peninggalan sejarah yang masih terawat dengan baik. Bangunan tempat beribadah umat Islam misalnya, mesjid-mesjid yang  sudah lama berdiri tersebut  selain memiliki nilai sejarah bagi masyarakat dimana mesjid itu berdiri, mesjid-mesjid tersebut juga mempunyai nilai seni arsitektur yang tinggi. Seni arsitektur itulah yang menjadikan mesjid tersebut masih terlihat kokoh yang indah walau usianya sudah berabad-abad.
Mesjid Agung Surakarta misalnya, mesjid tersebut mempunyai keindahan dari segi arsitektur bangunannya. Keindahan arsitekturnya masih terawat dengan baik, walau usianya sudah berabad-abad. Mesjid Agung Surakarta ini menjadi salah satu ciri khaskota Solo, khususnya Kabupaten Surakarta.
Seni dengan Islam sangat berkaitan. Kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna. Pandangan bahwa seni itu haram dalam Islam harus di luruskan. Seni adalah sesuatu yang indah, namun apabila terjadi sesuatu yang kurang baik, bukanlah seni yang haram, tetapi yang haram dampak buruknya. Seni membawa kesenangan pikiran, dan ketentraman jiwa hukumnya boleh atau mubah.
Perhatikan sabda Rosulullah SAW brikut :

    
Artinya :
‘’ Allah itu indah dan suka akan keindahan.’’ (H.R Muslim)
Dalam ayat diatas dijelaskan, bahwa Allah SWT sangat menyukai keindahan. Itu sebabnya kita harus menjaga segala sesuatu itu agar tetap indah dan terawat. Begitu pula dengan Mesjid Agung Surakarta, Arsitektur Mesjid Agung Surakarta memiliki pembagian ruang yang mirip dengan rumah-rumah Jawa Klasik, oleh karena itu Mesjid Agung Surakarta dikategorikan sebagai Mesjid Tradisional Jawa. Bentuk bangunan Mesjid Agung Surakarta mirip dengan bentuk bangunan Mesjid Demak. Keindahan Mesjid Agung menjadi bukti sejarah masuknya ajaran agama Islam dan keberadaan Islam di Surakarta. Untuk itu penulis merasa tertarik untuk meneliti mengenai Pengaruh Seni Arsitektur Mesjid Agung Surakarta Terhadap Daya Tarik Wisatawan Mancanegara.          
1.2  Perumusan Masalah
Untuk membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini, maka penulis merumuskan masalah yang akan dibahas dalam paper ini, diantaranya :
1.      Apa saja daya tarik seni arsitektur bangunan Mesjid Agung Surakarta bagi wisatawan asing maupun domestik yang datang ke Surakarta ?
2.      Bagaimana pengaruh seni arsitektur Mesjid Agung Surakarta terhadap daya tarik wisatawan mancanegara ?
1.3   Alasan dan Tujuan Penelitian
Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, sudah tentu mempunyai alasan dan tujuan. Begitu pula dengan penyusunan paper ini mempunyai alasan dan tujuan, diantaranya :
1.    Alasan
a.    Untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Ujian Nasional Madrasah Aliyah tahun pelajaran 2011/2012.
b.    Merupakan tugas dari sekolah.
c.    Untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
2.     Tujuan
a.    Untuk mengetahui daya terik seni arsitrktur bangunan Mesjid Agung Arsitektur bagi wisatawan asing maupun Domestik yang datang ke Surakarta.
b.    Untuk mengetahui pengaruh seni arsitektur Mesjid Agung Surakarta terhadap daya tarik wisatawan mancanegara.
1.4  Metode dan Teknik Penelitian
Metode yang digunakan penulis metode deskriptif yaitu metode penelitian status, sekelompok manusia, objek, kondisi, ataupun peristiwa yang ada di masa sekarang ( Idianto Muin : 2006 :110 ).
Teknik adalah alat yang digunakan untuk mengungkapkan, memperoleh data yang dibutuhkan dalam rangka menemukan masalah sebenarnya ( Tanjung dkk : 1990 :12 ).
Adapun teknik yang digunakan penulis dalam penyusunan paper ini, diantaranya :
1.    Observasi
Observasi adalah suatu teknik penulisan dimana observasi langsung pada tujuan penelitian (Winarno Surachman : 13)
2.    Wawancara
Wawncara adalah suatu tekik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data dilakukan dengan dialog secara lisan, baik secara langsung maupun tidak langsung ( I. Djumnur dan Muh. Surya 2007 : 329 )
3.    Dokumentasi
Dokumentasi adalah catatan peristiwa yang sudah berlaku yang berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. (Sugiono 2007 : 329).
4.    Survey Book
Survey book adalah proses untuk mencari data dengan mencari buku yang sesuai dengan masalah yang sedang di bahas ( Idianto Muin : 2006 :110 ).
1.5  Sistematika Pembahasan
           Dalam hal ini, penulis menggunakan sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB  I   : Pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, peumusan masalah,      alasan dan tujuan penelitian, metode dan teknik penelitian, sistematika pembahasan.
BAB II : Tinjauan teoritis tentang pengaruh seni arsitektur Mesjid Agung Surakarta terhadap daya tarik wisatawan mancanegara yang meliputi :  pengertian seni, pengertian arsitektur, elemen estetis Mesjid Agung surakarta dilihat dari segi keindahan, pengertian mesjid, pengertian wisatawan.
BAB  III : Kondisi objek hasil penelitian yang meliputi : letak geografis, sejarah singkat Mesjid Agung Surakarta, seni arsitektur Mesjid Agung Surakarta, pengaruh arsitektur Mesjid Agung Surakarta terhadap daya tarik wisatawan mancanegara,
BAB  VI  : Penutup yang meliputi : kesimpulan dan saran.












BAB II
Tinjauan Teoritis Tentang Pengaruh Seni Arsitektur Mesjid Agung Surakarta Terhadap Daya Tarik Wisatawan Mancanegara

2.1  Pengertian Seni
Istilah seni pada mulanya berasal dari kata Ars (Latin) atau Art (Inggris) yang artinya kemahiran. Ada juga yang mengatakan kata seni berasal dari bahasa Belanda yang artinya genius atau jenius. Sementara kata seni dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Sangsekerta yang berarti pemujaan. Dalam bahasa tradisional Jawa, seni artinya Rawit (pekerjaan yang rumit-rumit/kecil)
Namun secara umum, seni dapat didefinisikan sebagai salah satu unsur kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejajar dengan perkembangan manusia selaku pengubah dan penikmat seni.
Adapun pengertian seni menurut para ahli budaya, diantaranya :
1.    Menurut Drs. Popo Iskandar
Seni adalah hasil ungkapan emosi yang ingin disampaikan kepada orang lain dalam kesadaran hidup bermasyarakat atau berkelompok.
2.    Menurut Ki Hajar Dewantara
Seni merupakan perbuatan manusia yang timbul dari perasaannya dan bersifat indah sehingga dapat menggerakan jiwa dan perasaan manusia.
3.    Menurut Leo Tolstoy
Seni adalah suatu kegiatan manusia yang secara sadar dengan perantara tanda-tanda lahiriah tertentu menyampaikan perasaan-perasaan yang telah di hayatinya kepada orang lain sehingga ikut merasakan perasaan yang ia alami.


4.    Menurut Drs. Suwaji
Seni adalah aktivitas batin dan pengalaman estetik yang dinyatakan dalam bentuk agung yang mempunyai daya membangkitkan rasa takjub dan haru.
5.    Ahdian Karta Miharja
Seni adalah kegiatan rohani yang merefleksikan realitas dalam suatu karya yang bentuk dan isinya mempunyai untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam rohaninya penerimanya
Secara sederhana dapat disimpulkan seni adalah segala sesuatu karya manusia yang menimbulkan rasa indah.
2.2  Pengertian Arsitektur
Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota perancangan perkotaan arsitektur landscape, hingga ke level mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.
Arsitektur adalah bidang multi-dispilin, termasuk di dalamnya adalah matematika, sains, seni, teknologi, humaniora, sejarah, filsafat, dan sebagainya. Mengutip Vitruvius, “Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni”. Ia pun menambahkan bahwa seorang arsitek harus fasih di dalam bidang musik, astronomi, dsb. Filsafat adalah salah satu yang utama di dalam pendekatan arsitektur. Rasionalisme, empirisisme, fenomenologi, strukturalisme, post-strukturalisme, dan dekonstruktivisme adalah beberapa arahan dari filsafat yang mempengaruhi arsitektur.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa arsitektur adalah seni dalam merancang bangunan dari mulai level makro hingga mikro.
2.3  Eleman Estetis Mesjid Agung Surakarta Dilihat Dari Segi Keindahan
Masjid adalah tempat beribadah, sholat lima waktu, sholat Jum’at, dakwah, dan tempat suci untuk mempertemukan diri dengan Dzat Yang Maha Agung. Adapun pengertian Mesjid Agung adalah mesjid besar atau mesjid utama sebagai tempat peribadatan umat Islam yang ada di Kota Madya/ kota dan biasanya berada di tengah kota. Masjid Agung Surakarta adalah salah satu cagar budaya kota Solo merupakan salah satu monumen yang menjadi tonggak sejarah awal pemerintahan Kerajaan Mataram sejak pemindahan ibukota dari Kartasura ke Surakarta di bawah kepemimpinan Pakubuwono II. Bersama kompleks Keraton dan benteng Vastenbreg, masjid tersebut menjadi jejak awal pembangunan dan penataan fisik Kota Surakarta. Mesjid yang juga menjadi representasi warisan arsitektur daerah yang sangat tinggi arti dan nilainya itu bercorak tradisional Jawa. Arsitektur Mesjid Agung Surakarta memiliki pembagian ruang yang mirip dengan rumah-rumah Jawa Klasik, oleh karena itu Mesjid Agung Surakarta dikategorikan sebagai Mesjid Tradisional Jawa. Bentuk bangunan Mesjid Agung Surakarta mirip dengan bentuk bangunan Mesjid Demak. Keindahan Mesjid Agung menjadi bukti sejarah masuknya ajaran agama Islam dan keberadaan Islam di Surakarta.
Elemen hias yang digunakan pada Mesjid Agung Surakarta dominan menggunakan bentuk motif flora, terdapat pada elemen pembentuk ruang dan pengisian ruang. Motif-motif tersebut diambil dari bentuk stilasi daun ikal dan bunga. Motif yang terdapat pada elemen estetis mesjid berfungsi sebagai elemen dekorasi dan pendukung suasana. Keberadaaanya dapat mendukung aspek keindahan dari masjid tersebut.
Nilai warna pada ruang Shalat Utama berperan sebagai warna representasi alam karena warna-warna yang digunakan menggunakan warna coklat dengan warna crem yang mewakili warna alam. Perpaduan ini mendukung kesan unity. Pada Serambi, Tratag Rambat, Pawastren, Balai Musyawarah , dan Yogaswara menggunakan warna biru muda (biru laut) gradasi mendukung kesan tata jenjang. Elemen estetis interior pada Mesjid Agung Surakarta dominan menggunakan jenis ornamen organis karena ornamen tersebut bersumber pada fenomena alam yang hidup ( hayati ), berupa daun, tangkai, buah, bunga, batang, akar, dan lain-lain yang membentuk suatu perwujudan ornametik. Bentuk-bentuk yang muncul berupa kepala atau bagian kepala, tangan atau bagian tangan, kaki atau bagian kaki, dan lain-lain. Organ itu merupakan bagian dari totalitas tubuh. Dalam perwujudannya hanya bagian per bagian, tetapi dapat ditemukenali sebagai ornamen organis.
Interior ruang Sholat Utama terdapat elemen estetis pada unsur pembentuk ruang. Pada ruang Sholat Utama terdapat berbagai macam elemen estetis di antaranya menggunkan motif flora, geometris, kaligrafi, dan fauna. Semua elemen estetis tersebut berperan sebagai penghias ruangan. Elemen estetis pada interior ruang Shalat Utama mengandung aspek kesatuan karena adanya penggabungan motif flora dan fauna yang terdapat pada daun pintu ruang Sholat Utama. Motif flora berbentuk stilasi daun dan bunga sedangkan motif faunan berbentuk kepala naga dan sayap kupu-kupu yang menjadi kesatuan dalam membentuk elemen estetis pada daun pintu ruang Shalat Utama. Selain pada daun pintu juga terdapat pada mimbar ruang Shalat Utama. Motif-motif yang terdapat pada mimbar yaitu motif putri mirong, wajik, patran, mahkota, stilasi daun, dan geometris. Penggabungan motif-motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukan elemen estetis pada mimbar ruang Sholat Utama. Pada mihrab terdapat berbagai macam elemen estetis yang menghiasinya di antaranya motif yang digunakan yaitu motif flora, geometris, dan kaligrafi. Motif flora terdapat pada kaca patri, sedangkan geometris berbentuk gerigi terdapat pada pilar, dan kaligrafi terdapat pada penghubung antar pilar dan hiasan logo PB X yang terdapat di kiri dan kanan mihrab. Penggabungan kesemua motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukan elemen estetis pada mihrab ruang Shalat Utama. Elemen estetis pada interior ruang Shalat Utama mendukung aspek tema dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada ruang Shalat Utama menggunakan finishing coklat tua yang terdapat pada unsur pembentuk ruang dan pengisi ruang yaitu ceilling, kolom, pintu, mimbar, mihrab, jam, dan meja Al’Quran. Warna pada ruang Shalat Utama direpresentasi dari alam sehingga tema yang ada di ruang Shalat Utama menggambarkan tentang alam yang melambangkan manusia akan kepapan dihadapanAllah SWT. Elemen estetis pada interior ruang Shalat Utama mengandung aspek variasi karena adanya penggunaan elemen estetis yang beranekaragam yaitu adanya motif flora yang terdapat pada dinding, daun pintu, mimbar, mihrab, dan kolom pada ruang Shalat Utama. Motif geometris terdapat pada mihrab, balok di atas daun pintu, dan ventilasi. Motif putri mirong terdapat pada mihrab, patran dan mahkota terdapat pada mimbar. Motif fauna terdapat pada pintu ruang Shalat Utama. Kaligrafi tedapat pada mihrab dan balok yang terdapat di atas daun pintu ruang Sholat Utama. Gunungan terdapat pada pengisian ruang yaitu meja tempat peletakan Al’Quran. Selain motif-motif di atas yang menjadi elemen estetis interior pada ruang Shalat Utama, keindahan dapat dirasakan karena kehadiran warna yang terdapat pada unsur pembentuk ruang dan pengisi ruang pada ruang Shalat Utama. Elemen estetis pada interior ruang Shalat Utama mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi pada elemen estetis yang menjadi penghias ruang Shalat Utama. Elemen simetris dapat kita lihat pada daun pintu, mihrab, dan mimbar karena kedua sisinya sama sejajar. Sedangkan unsur repetisi terdapat pada stilasi daun yang terletak dikolom dan dinding ruang Sholat Utama. Unsur repetisi juga terdapat pada motif geometris yang terdapat pada pilar-pilar mihrab. Motif patran juga menjadi unsur repetisi yang terdapat ada mimbar ruang Shalat Utama. Elemen estetis pada Interior ruang Shalat Utama mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian awal-awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna dan menyeluruh dapat dilihat pada mimbar. Elemen estetis pada mimbar bentuk dasar motifnya adalah stilasi daun yang berkembang menjadi motif putri mirong dan patran. Aspek tata jenjang terdapat pada unsur mihrab karena penggabungan antara motif flora, geometris, kaligrafi, dan penggunaan warna yang menjadi tema utama pada mesjid. Penggabungan tersebut membentuk suatu elemen estetis yang mempunyai makna.
Elemen estetis interior pada Serambi mengandung aspek kesatuan karena adanya penggunaan motif flora, geometris, fauna, dan kaligrafi. Motif-motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukkan elemen estetis interior pada Serambi masjid. penggabungan motif flora dan kaligrafi terdapat pada mimbar Serambi yang menjadi kesatuan dalam pembentukkan elemen estetis mimbar. Sedangkan motif flora dan fauna terdapat pada daun pintu Serambi yang mana motif flora berbentuk stilasi daun dan motif fauna berbentuk kepala naga dan sayap kupu-kupu menjadi kesatuan dalam pembentukkan elemen estetis. Aspek kesatuan juga terdapat pada pola lantai yang bermotifkan flora dan geometris. Penggabungan motif-motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukkan elemen estetis pada Serambi. Elemen estetis pada interior Serambi mendukung aspek tema masjid, yakni simbol Keraton Surakarta dalam nuansa biru laut, dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada Serambi menggunakan finishing biru laut yang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu ceilling dan kolom yang terdapat pada Serambi. Elemen estetis pada Interior Serambi mengandung aspek variasi karena adanya penggabungan elemen estetis yang beraneka ragam di antaranya motif flora, geometris, kaligrafi, dan motif fauna. Motif flora dan fauna terdapat ada daun pintu penghubung Serambi dengan ruang Shalat Utama yang menjadikan elemen estetis pada daun pintu menjadi variasi. Sedangkan motif flora dan kaligrafi terdapat pada mimbar yang menjadi elemen variasi. Motif geometris selalu dipandankan dengan motif flora yang terdapat pada pola lantai Serambi sehingga mendukung kesan varisi tidak monoton. Motif putri mirong menjadi elemen estetis Serambi yang terdapat pada kolom Serambi. Elemen estetis pada interior Serambi mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi yang menjadi elemen penghias Serambi. Elemen estetis yang merupakan unsur simetris tedapat daun pintu yang elemen estetisnya terdiri dari motif flora dan fauna. Elemen tersebut dapat dikatakan simetris karena bentuk kiri dan kanan sama dan sejajar. Motif putri mirong yang terdapat pada kolom Serambi dapat dikatakan simetris karena apabila dibagi dua bentuknya sama dan sejajar. Pada lantai dan mimbar dapat dikatakan simetris apabila sisi kiri dan kanannya sama dan sejajar. Aspek repetisi karena adanya motif geometris dan motif flora berulang-ulang pada Serambi. Elemen estetis pada interior Serambi mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian awal-awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna yang menyeluruh dapat dilihat pada unsur pembentuk ruang yaitu daun pintu Serambi yang menuju ruang Sholat Utama. Pada dasarnya motif yang digunakan berbentuk stilasi daun yang berkembang menjadi motif tlancapan. Aspek tata jenjang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu putri mirong yang terdapat pada kolom Serambi.
Interior Tratag Rambat terdapat elemen estetis pada unsur pembentuk ruang. Pada Tratag Rambat terdapat berbagai macam elemen estetis di antaranya menggunakan motif flora dan geometris. Semua elemen estetis tersebut berperan sebagai penghias ruangan. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mengandung aspek kesatuan karena adanya penggabungan antara motif flora dan geometris yang menjadi penghias elemen estetis lantai Tratag Rambat. Motif-motif yang digunakan pada lantai tersebut menggunakan bentuk stilasi daun dan bunga yang dipadukan dengan bentuk setengah lingkaran dan garis yang menjadi kesatuan yang utuh. Sedangkan pada pagar besi terdapat elemen estetis yang menghiasinya di antaranya motif flora dan geometris. Kedua motif tersebut menjadi kesatuan dalam pemebentukkan elemen estetis pada pagar besi yang terdapat pada Tratag Rambat. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mendukung aspek tema mesjid yakni Surakarta berkait dengan Laut Kidul, dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada Tratag Rambat menggunakan finishing biru laut yang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu ceilling, pagar besi, dan tiang-tiang yang terdapat pada Tratag Rambat. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mengandung aspek variasi karena adanya penggunaan elemen estetis yang beraneka ragam yaitu motif flora dan geometris yang terdapat pada unsur pembentuk ruang. Pada lantai dan pagar besi terdapat gabungan elemen estetis yang menghiasinya yaitu motif geometris dan motif flora. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi yang menjadi penghias Tratag Rambat. Elemen estetis pada lantai dapat dikatan simetris karena motif yang menjadi penghias pola lantai sisi kiri dan kanannya sama sejajar apabila ditarik garis tengah. Sedangkan pada pagar Tratag Rambat elemen estetisnya memiliki unsur simetris karena sisi kiri dan kanannya sama sejajar. Unsur repetisi terdapat pada elemen estetis pola lantai karena adanya pengulangna motif flora dan geometris. Elemen estetis pada interior Tratag Rambat mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian-bagian awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna yang menyeluruh dapat dilihat dari motif flora dan geometris yang terdapat pada pagar Tratag Rambat. Motif geometris berbentuk spiral yang menjadi dasar elemen estetis kemudian berkembang menjadi motif flora yang menjadi elemen estetis pagar besi Tratag Rambat. Asas tata jenjang Tratag Rambat terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu pagar besi yang memiliki aspek kesatuan, variasi, keseimbangan, tema, dan perkembangan.
Interior ruang Pawastren terdapat elemen estetis pada unsur pembentuk ruang. Pada ruang Pawastren terdapat berbagai macam elemen estetis di antaranya menggunkan motif flora dan fauna. Semua elemen estetis tersebut berperan sebagai penghias ruangan. Elemen estetis pada Interior ruang Pawastren mengandung aspek kesatuan karena adanya penggabungan motif flora dan fauna yang terdapat pada daun pintu ruang Sholat Utama. Motif flora berbentuk stilasi daun dan bunga sedangkan motif fauna berbentuk kepala naga dan sayap kupu-kupu yang menjadi kesatuan dalam membentuk elemen estetis pada daun pintu ruang Pawastren. Selain pada daun pintu juga terdapat pada cermin pengisi ruang Pawastren. Motif-motif yang digunakan pada cermin berbentuk stilasi daun dan bunga. Motif-motif tersebut menjadi kesatuan dalam pembentukan elemen estetis pada cermin dan daun pintu Pawastren yang merupakan pembentukkan elemen estetis. Elemen estetis pada interior ruang Pawastren mengandung aspek tema dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada ruang Pawastren menggunakan finishing biru laut yang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu ceilling dan kolom. Elemen estetis pada interior Pawastren mengandung aspek variasi karena adanya penggunaan elemen estetis yang beraneka ragam yaitu adanya motif flora yang terdapat pada daun pintu dan frem pada cermin, sedangkan motif fauna terdapat pada daun pintu yang berbentuk kepala naga dan sayap kupu. Keindahan dapat dilihat karena adanya variasi warna yang terdapat pada unsur pembentuk ruang dan pengisi ruang pada interior ruang Pawastren. Elemen estetis pada interior mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi pada elemen estetis yang menjadi penghias ruang Pawastren. Elemen simetris dapat kita lihat pada daun pintu dan frem cermin karena kedua sisinya sama sejajar. Sedangkan unsur repetisi terdapat pada stilasi daun yang terletak di frem cermin pada ruang Pawastren. Elemen estetis pada interior ruang Pawastren mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian awal-awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna dan menyeluruh dapat dilihat pada cermin. Elemen estetis pada cermin bentuk dasar motifnya adalah stilasi daun dan bunga yang berkembang menjadi motif penghias cermin. Aspek tata jenjang terdapat pada semua aspek keindahan di dalamnya yaitu daun pintu pada Pawastren karena penggabungan antara motif flora, fauna dan penggunaan warna yang menjadi tema. Penggabungan tersebut membentuk suatu elemen estetis yang mempunyai makna.
Interior ruang Balai Musyawarah terdapat pada unsur pembentuk ruang. Pada ruang Balai Musyawarah terdapat berbagai macam elemen estetis di antaranya menggunkan motif flora dan fauna. Semua elemen estetis tersebut berperan sebagai penghias ruangan. Elemen estetis pada interior ruang Balai Musyawarah mengandung aspek kesatuan karena adanya penggabungan motif flora dan fauna yang terdapat pada daun pintu Balai Musyawarah . Motif flora berbentuk stilasi daun dan bunga sedangkan motif fauna berbentuk kepala naga dan sayap kupu-kupu yang menjadi kesatuan dalam membentuk elemen estetis pada daun pintu ruang Balai Musyawarah . Selain pada daun pintu juga terdapat pada cermin pengisi ruang Pawastren. Elemen estetis pada Interior ruang Balai Musyawarah mengandung aspek tema dapat dilihat dari penggunaan warna yang menjadi elemen penghiasnya. Warna pada ruang Balai Musyawarah menggunakan finishing biru laun yang terdapat pada unsur pembentuk ruang yaitu ceilling dan kolom. Warna pada ruang Balai Musyawarah mendukung suasana Keraton Surakarta. Elemen estetis pada interior Balai Musyawarah mengandung aspek variasi karena adanya penggunaan elemen estetis yang beraneka ragam yaitu adanya motif flora yang terdapat pada daun pintu, sedangkan motif fauna terdapat pada daun pintu yang berbentuk kepala naga dan sayap kupu. Keindahan juga dapat divariasikan dengan warna yang terdapat pada unsur pembentuk ruang pada ruang Balai Musyawarah . Elemen estetis pada Interior Balai Musyawarah mengandung aspek keseimbangan karena adanya unsur simetris dan repetisi pada elemen estetis yang menjadi penghias ruang Balai Musyawarah . Elemen simetris dapat kita lihat pada daun pintu karena kedua sisinya sama sejajar. Elemen estetis pada interior ruang Balai Musyawarah mengandung aspek perkembangan karena adanya proses yang bagian awal-awalnya menentukan bagian-bagian selanjutnya dan bersama-sama menciptakan suatu makna dan menyeluruh dapat dilihat pada motif daun yang digunakan pada pintu. Stilasi daun yang kecil berkembang menjadi tumpukan daun ( bergerombol ). Aspek tata jenjang terdapat pada semua aspek keindahan di dalamnya yaitu daun pintu pada Balai Musyawarah karena penggabungan antara motif flora, fauna dan penggunaan warna yang menjadi tema. Penggabungan tersebut membentuk suatu elemen estetis yang mempunyai makna.
Secara garis besar hasil penelitian menunjukkan bahwa keindahan interior Masjid Agung Surakarta pada setiap ruang mengandung aspek kesatuan karena adanya perpaduan motif flora dan fauna. Aspek tema karena adanya warna yang mendukung tema suasana Surakarta yakni biru laut sebagai lambang adanya hubungan antara Keraton Surakarta dengan Laut Kidul. Aspek keragaman karena unsur yang digunakan tidak hanya terdiri dari satu jenis motif, akan tetapi terdiri dari motif flora, fauna, geometris, dan kaligrafi. Aspek keseimbangan karena adanya komposisi besarnya motif dan jarak. Aspek perkembangan karena adanya motif stilasi daun dan bunga menjadi motif flora secara utuh. Aspek tata jenjang karena adanya penggabungan antara jenis motif flora, fauna, geometris, kaligrafi dan didukung warna mendukung kesan suasana tema Surakarta. Penggabungan tersebut membentuk suatu elemen estetis yang mempunyai makna.

2.4  Pengertian Mesjid
Mesjid berasal dari akar kata ‘’sajada’’, dimana sajada berarti sujud atau tunduk. Kata mesjid sendiri berasal dari bahasa Arab. Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke-5 SM, kata masgid (m-s-g-d) ini berarti ‘’tiang suci’’ atau ‘’tempat sembahan’’. Kata mesjid dalam bahasa Inggris disebut mosque. Kata mosque ini berasal dari kata mezquita dalam bahasa Spanyol. Dan kata mosque kemudian menjadi populer dan di pakar dalam bahasa Inggris secara luas. Adapun pengertian Mesjid Agung adalah mesjid besar atau mesjid utama sebagai tempat peribadahan umat Islam yang ada di kota Madya / kota dan biasanya berada di tengah kota.
Mesjid adalah rumah tempat ibadah umat muslim. Mesjid artinya tempet sujud, dan mesjid berukursn kecil juga disebut mushola, langgar atau surau. Selain tempat ibadah mesjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas muslim. Kegiatan-kegiatan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah, dan belajar Al-Qur’an sering dilaksanakan di mesjid. Bahkan dalam sejarah Islam, mesjid turut memegang peranan dalam aktivitas kemasyarakatan hingga kemiliteran.
Bentuk umum dari sebuah mesjid adalah keberadaan menara-menara. Menara asal katanya dari bahasa Arab ‘’nar’’ kejauhan. Menara mesjid biasanya tinggi dan berada di bagian pojok dari komplek mesjid. Menara bertujuan sebagai  tempat muadzin mengumandangkan adzan. Selain menara, kubah juga merupakan satu ciri khas dari sebuah mesjid. Seiring waktu, kubah diperluas menjadi sama luas dengan tempat ibadah dibawahnya. Walaupun kebanyakan kubah memakai bentuk setengah bulat, mesjid didaerah India dan Pakistan memakai kubah berbentuk bawang.
Tempat ibadah atau ruang shalat, tidak diberikan meja atau kursi, sehingga memungkinkan para jema’ah untuk meangisi shaf atau barisan-barisan yang ada didalam ruang shalat. Bagian ruang shalat biasanya diberi kaligrafi dan potongan ayat Al-Qur’an untuk memperlihatkan keindahan agama Islam, serta Al-Qur’an. Ruang shalat mengarah kearah Ka’bah sebagai kiblat umat Islam. Di mesjid juga terdapat mihrab dan mimbar. Mihrab adalah tempat imam memimpin shalat, sedangkan mimbar adalah tempat khatib menyampaikan khutbah .
Dalam komplek mesjid, didekat ruang shalat, tersedia ruang untuk menyucikan diri atau biasa disebut tempat wudlu dibeberapa mesjid kecil, kamar mandi digunakan sebagai tempat untuk wudlu. Sedangkan dimesjid tradisional, tempat wudlu biasanya sedikit terpisah dari bangunan mesjid.
2.5  Pengertian Wisatawan
Menurut Undang-undang no 10 thn 2009 tentang kepariwisataan disebutkan wisatawan adalah orang yang melakukan wisata. Menurut Sihite (2000:49) pengertian wisatawan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Wisatawan nusantara adalah wisatawan dalam negeri atau wisatwan domestik.
2.      Wisatawan mancanegara adalah warga negara suatu negara yang mengadakan perjalanan wisata keluar lingkungan dari negaranya (memasuki negara lain).
Menurut IUOTO (International Union of Official Travel Organization), dalam Gamal Suwantoro (2009 : 4)  menggunakan batasan mengenai wisatawan secara umum: pengunjung (visitor) yaitu setiap orang yang datang ke suatu negara atau tempat tinggal lain dan biasanya dengan maksud apapun kecuali untuk melakukan pekerjaan yang menerima upah. Jadi, ada dua kategori mengenai sebutan pengunjung, yakni:
1.      Wisatawan (tourist) adalah pengunjung yang tinggal sementara, sekurang-kurangnya 24 jam di suatu negara. Wisatawan dengan maksud perjalanan wisata dapat digolongkan menjadi :
a.       Pesiar (leisure), untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan, study, keagamaan, dan olahraga.
b.      Hubungan (relationship), dagang, sanak saudara, kerabat, MICE, dsb.
2.      Pelancong (ekscursionist) adalah pengunjung sementara yng tinggal dalam suatu negara yng dikunjungi dalam waktu kurang dari 24 jam.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa wisatawan adalah orang-orang yang melakukan kegiatan perjalanan dengan tujuan memperoleh kesenangan, tidak untuik bekerja, menetap, dan mencari nafkah.





BAB  III
Kondisi Objek hasil Penelitian
3.1  Letak Geografis
Kota Surakarta yang juga sangat dikenal sebagai Kota Solo, merupakan sebuah dataran rendah yang terletak di cekungan lereng pegunungan Lawu dan pegunungan Merapi dengan ketinggian sekitar 92 m diatas permukaan air laut. Dengan Luas sekitar 44 . Kota Surakarta dibelah dan dialiri oleh 3 (tiga) buah Sungai besar yaitu sungai Bengawan Solo, Kali Jenes dan Kali Pepe. Mesjid Agung Surakarta sendiri terletak di Desa Kauman Kecamatan Pasar Kliwon Kabupaten Surakarta.
Batas wilayah Kota Surakarta :
a.                Sebelah Utara        : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali.
b.               Sebelah Timur       : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karangnyar,
c.                Sebelah Barat        : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karangnyar
d.               Sebelah Selatan     :  Kabupaten Sukoharjo
3.2  Sejarah Mesjid Agung Surakarta
Hampir di setiap kota besar di Indonesia ada mesjid bersejar . Salah satunya ialah Mesjid Agung Surakarta. Baik umur dan peranannya dimasa lampau, sekarang dan yang akan datang. Mesjid Agung Surakarta tetap dibicarakan orang.
Tidak lama sesudah pusat kerajaan KARTASURA dipindahkan ke SURAKARTA pada 17 Februari 1745 m atau 14 Sura tahun ke 1670 Saka, maka 12 tahun kemudian sebuah mesjid resmi didirikan oleh kerajaan mulai dibangun letaknya tidak begitu jauh dari istana, yaitu disebelah barat alun-alun utara, menghadap ke timur.
Sebab musabab dipindahkannya pusat kerajaan tersebut menurut catatan sejarah adalah karena kerusuhan-kerusuhan yang dialaminya akibat adanya beberapa sengketa dalam negeri antara lain pemberontakan yang dipelopori laskar Cina.
Sebuah team penyelidik yang dikirim lalu melaporkan bahwa yang paling tepat untuk pusat kerajaan ialah desa disebelah timur Ktasura bernama Sala. Setelah persetujuan dicapai maka dalam pemerintahan Sri susuhunan Pakubuwana lll tahun (1749-1788) masehi didirikanlah Mesjid Agung yang di cita-citakan itu. Untuk mudahnya saja ditirulah bentuk bangunan yang mirip Mesjid Agung Demak yang didirikan oleh para wali penyiar agama di Jawa.
Bangunan ini berbentuk ‘’ tajuk’’ ialah bangunan klasik dengan atap bersusun tiga. Oleh para wali hal ini ditafsirkan sebagai pokok-pokok tuntunan Islam, yaitu :
1.    IMAN
Di lambangkan pada atap pertama paling atas. Maka maksudnya seseorang jika masuk Agama Islam harus percaya kepada tatanan enam keimanan. Yaitu percaya kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab suci, para Rasull allah, hari kiamat, dan kepastian baik buruk (takdir) dari allah.
2.    ISLAM
Di lambangkan pada atap yang kedua, yang mengandung maksud bahwa syari’at islam yang wajib dijalani ialah : mengucapkan dua kalimat syahadat, melakukan shalat, puasa, zakat dan ibadah haji.
3.   IHSAN
Di lambangkan pada atap yang ketiga, maksudnya setiap orang islam wajib berbuat baik kepada Allah SWT, dan kepada semua umat manusia dimana saja, oleh siapa saja.
3.2.1   Pembangunan Bertahap
Mesjid-mesjid dipulau Jawa dalam bentuknya yang asli, pada umurnya mempunyai pembagian ruangan yang mirip dengan rumah-rumah Jawa Klasik. Ruangan induk pada mesjid terdapat didalamnya mihrab (tempat imam berdiri)  dan mimbar (tempat khatib khutbah jika hari jum’at) penuh ukiran, dan tulisan indah dari ayat-ayat Al-Qur’an. Kaligrafi banyak terdapat diatas pintu-pintu mesjid.
Ruang induk ini terdapat Saka Guru (tiang utama) yang berjumlah empat buah sebagai titik awal bagi mesjid Agung didirikan pada tahun wawu 1689 Saka atau 1757. Ruang dalam ini mempunyai panjang 34.25 m dan lebar 33,53 m. Bisa membuat jema’ah dengan perhitungan 1 baris (shaf) 100 dan kebelakang bisa membuat 20 baris maka akan berjumlah 2000 orang.
Semasa pemerintah Sri susuhunsn Pakubuwana ke lV (1788-1820) dibangun ‘’mustaka’’ atau ‘’kubah’’ baru diatas puncaknya, dengan peresmian namanya : Mesjid Ageng (Agung). Karena rasa tanggung jawabnya yang penuh, Para Raja Surakarta membiayai keperluan belanja pegawai, karyawan dan alat-alat yang di perlukan dengan penuh ini sudah lazim. Karena raja-raja ini bergelar ‘’Sayidin Penata Gama Khalifullah’’ yang artinya kepala pengatur agama dan Khalifullah Allah, sebagai kepala urusan agama diangkat seorang penghulu.
Sampai saat ‘’Daerah Istimewa’’ ini berbalik ketangan RI, KRTP Tafsiranom l sampai ke VI diangkat oleh Raja. Beliaulah yang berwenang mengatur waktu-waktu shalat, imam-imam Rawatib, khatib-khatib dan menentukan mulai dan berahirnya bulan puasa dan Idul Adha.
             Keraton juga mempunyai Kantor Urusan Agama yang bernama YOGASWARA yang artinya ‘’ Suara Alim Ulama ‘’, tempatnya tepat disebelah timur mesjid. Semasa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana ke VIII (1830-1875 M). Pembangunan-pembangunan yang dilakukan meliputi:
1.    Ruang Pawastren (ruang untuk keputren) samping kiri dan kanan yang menyerupai ruangan gondok dalam ruangan rumah tangga. Ruangan Selatan maksudnya untuk keputrian, dan bagian utara untuk kantor dan ruangan belajar membaca Al-Qur’an. Peresmiannya pada hari Senen Kliwon tanggal 27 Suro tahun Alip 1779 Jawa atau 2 Maret 1850 meter, panjang 29,68 meter dan lebar 8,20 meter.
2.    Pembangunan serambi, yang mirip pendapa dalam rumah tangga, maksudnya sebagai aula untuk pengajian-pengajian akbar, upacara-upacara resmi pada hari-hari Besar  Islam, bisa juga untuk Balai Pernikahan dan upacara shalat jenazah. Peresmiannya dilakukan pada hari kamis Wage 19 Besar tahun Be 1784 jawa atau 21 Agustus 1856 m. Panjang 53,86 meter dan lebarnya 25 meter. Kalau 1 shaf (baris) bisa memuat 500 dan kebelakang bisa 20 baris, maka serambi ini bisa memuat 10.000 orang, belum termasuk bagian samping.
3.    Pembangunan Kubah (mustaka) dulu dibuat dari lapisan emas murni seberat 192 Ringgit 7,68 Kg dengan satu istilah Jawa, ‘’Kepareng karsa Dhalem Kaparingan Brumbung Jene Wawrat 192 Ringgit’’. Bentuk ini berlainan dengan mesjid-mesjid lain, yang biasanya berhiaskan bulan sabit melengkung dengan sebuah bintang. Tetapi kubah ini berbentuk paku yang menancap dibumi, mungkin simbol dari nama Pakubuwana yang artinya Penguasa Bumi Lapisan emas murni ini pernah diraih ‘’Tangan Panjang’’, kemudian diganti bahan metal yang kuat. Diresmikan 21 Ruwah tahun Alip 1823 jawa.
Seluas-luas kita memandang kedalam bangunan ini nampak seni Klasik Jawa semua terdiri dari kayu jati, bahkan atapnya pun terbuat dari sirap jati (sudah di ganti). Karena sifat kayu tersebut maka ciri-cici lengkung dan relung tidak terdapat, sebaliknya kayu dengan ukiran kayu yang sangat bernilai seni dan beberapa sandi. Pada pintu-pintu masuk bagian dalam, bagian depan 5 buah, dan samping utara dan selatan 6 buah terdapat lukisan ukiran kayu kepala ular naga yang menganga. Sebenarnya banyak orang yang bertanya-tanya : Mengapa gambar ini diletakan disini ? pihak yang mengetahui menerangkan, lukisan itu adalah simbol halilintar, yang merupakan sandi rahasia, tahun didirikannya mesjid. duta-duta besar, atase-atase kebudayaan asing yang pernah berkunjung kesini berdiri agak lama, sambil tertegun heran.
Di masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana ke X terjadi perombakan cara dakwah dan khutbah. Beliau memerintahkan supaya khutbah-khutbah di terjemahkan kedalam bahasa daerah. Sebelumnya semua khutbah memakai Bahasa Arab saja. Hal itu dimulai 27 Sura tahun Dal 1832 Jawa. Di pasang pula pengeras suara, dan langsung disiarkan oleh radio SRI (Siaran Republik Indonesia) milik Kesunanan dengan penyiar terkenal R.M Moelyadi Joyomartono (almarhum).
3.2.2   Pembangunan Kolam Air
Air untuk mesjid, laksana tempat bernafas bagi ikan. Pendeknya air dan mesjid tidak bisa dipisahkan. Mesjid yang baik jika mempunyai persediaan air yang berlimpah dimasa lampau kolam air dibuat mengelilingi seluruh mesjid sedalam 50 cm. Dengan sendirinya jika orang akan masuk ke mesjid harus mencelupkan kakinya agar bersih dari segala kotoran dan najis.
Kesempatan itu digunakan juga oleh anak-anak kecil untuk belajar berenang. Sekarang kolam air keliling itu telah diperkecil, untuk wudlu dibuatkan tempat yang bersih dengan memakai kran ledeng. Persediaan air diberi dinamo listrik dan reserve bak dengan menara air. Peresmiannya tepat pada hari ulang tahun ke 64 Sri Susuhunan Pakubuwana ke X yaitu tahun 1928.
Dalam kepercayaan Jawa Timur 64 tahun adalah keramat, karena hari pasaran, tanggal, bulan, dan tahunnya tepat sama seperti ketika orang itu dilahirkan oleh sang ibu. Biaya tempat wudlu ini f 3000.- (Rp. Belanda).
Tempat hari itu juga dibuatkan perlengkapan bencet, yaitu alat untuk melihat waktu shalat (istiwak) untuk menentukan waktu dzuhur tepat jam : 12.00 siang. Kemudian disusul dengan bunyi bedug ‘’ kyai Wahyu Tenggara’’. Bedug dan kentongan mesjid ini tidak ada bandingan besar dan keras suaranya.
3.2.3   Pembangunan Menara Adzan
Lima kali sehari semalam seruan adzan itu harus terdengar dari tempat yang jauh. Maka didirikanlah menara setinggi 25 meter, dengan tangga naik dari besi. Kalau dulu orang harus naik turun, tetapi sekarang melakukan adzan cukup dari bawah saja. Dengan bantuan pengeras suara bisa terdengar keseluruh kota.
Peletakan Pondasi untuk menara dilakukan hari kamis 12 Ramelan tahun Je 1854 Jawa atau 1929 m, dan baru selesai 7 tahun kemudian. Biaya yang dikeluarkan 35.000,- Rupiah Belanda (Gulden). Peresmiannya dilakukan 14 Sapar tahun Jimawal 1861 Jawa.
Gapura sebelah timur semula berbentuk rumah limasan, kemudian diperindah dengan arsitektur arab. Biayanya lebih besar dari pembuatan menara. Ketika itu mencapai jumlah 100.000 gulden (Rupiah Belanda). Gapura berasal dari bahasa Arab ‘’ghafura’’ artinya dimaafkan kesalahannya. Diatasnya dicantumkan hiasan tulisan arab dari kayu jati yang diukir indah dengan simbol mahkota dan sebuah jam besar. Bunyi kaligrafi arab itu berisi do’a jika akan masuk dan keluar mesjid.
Mesjid-mesjid yang ada dilingkungan daerah Surakarta yang didirikan oleh Kasunanan dan Mangkunagara meliputi daerah : Nayu, Kepatihan, Laweyan, Banjarsari, (Mangkunagara) dan menang. Bahkan setiap rumah-rumah Pangeran (putra dan cucu-cucu raja) biasanya berdiri juga mushola. Di tempat-tempat istirahat Tawangmangu, Langenharjo, pengging, Boyolali didirikan pula sebuah mesjid oleh Kasunanan.
Peranan mesjid-mesjid ini terdahulu dan sekarang masih menonjol dalam memperingati hari besar Islam seprti Puasa, Idul Adha, Idul Fitri dan lebih-lebih pada pekan Maulid Nabi Muhammad SAW diadakan perayaan tradisional Sekaten yang khusus hanya di Solo dan Yogyakarta.
3.3  Seni Arsitektur Mesjid Agung Surakarta
Masjid Agung Surakarta merupakan salah satu masjid kuno di Indonesia yang menjadi salah satu saksi perkembangan Islam dan pelaksanaan ritual keagamaan di Keraton Surakarta. Mesjid ini terletak di sisi barat alun-alun Surakarta. Dari jauh, sebuah gapura unik berwarna putih yang dibangun pada masa Paku Buwana X menjadi penanda keberadaan masjid ini. Memasuki gapura, wisatawan akan memasuki serambi mesjid yang menjorok ke depan (tratag rambat) yang pada bagian depannya membentuk kuncung. Sebelum memasuki mesjid, anda dapat membasuh kaki pada kolam air yang mengelilingi serambi mesjid. Kolam air ini dimaksudkan sebagai batas suci, sehingga kaki para jamaah atau pengunjung yang ingin memasuki mesjid bisa dipastikan sudah bersih.
Pada ruang utama, wisatawan bisa menyaksikan dekorasi bangunan yang ditopang oleh 4 tiang utama (saka guru) dan 12 tiang tambahan (saka rawa). Dalam ruang utama ini terdapat mihrab (ruang shalat Imam) dan mimbar yang digunakan oleh Khatib pada saat shalat Jumat. Di kompleks Mesjid Agung Surakarta juga terdapat kelengkapan lain, seperti tempat wudhu, Pawestren (tempat shalat untuk wanita), Balai Musyawarah, serta Pagongan, yaitu bangunan pendapa di kanan kiri masjid yang digunakan sebagai tempat gamelan ketika diadakan Upacara Gerebeg Sekaten (upacara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad). Terdapat juga sebuah istal (garasi kereta kuda) yang dahulu digunakan sebagai tempat memarkir kereta Susuhunan setiap Shalat Jumat maupun ketika menghadiri Upacara Gerebeg. Sebuah menara adzan juga menghiasi halaman masjid yang dibangun dengan gaya menara kutab Minar di India.
Hal menarik lainnya, sampai sekarang takmir Mesjid Agung Surakarta masih menggunakan jam Istiwak, yaitu penunjuk waktu yang menggunakan patokan posisi matahari untuk menentukan waktu shalat. Jam Istiwak yang terdapat di halaman mesjid ini menggunakan jarum penunjuk berupa sebatang logam, yang berdiri diatas pelat perunggu berbentuk setengah lingkaran dengan angka-angka menyerupai jam. Cara kerjanya, takmir mesjid akan melihat bayangan batang logam yang tertimpa sinar matahari. Bayangan logam tersebut jatuh pada angka-angka tertentu yang akan digunakan sebagai penentu masuknya waktu shalat.
Di kompleks Mesjid Agung Surakarta juga terdapat bangunan yang disebut Gedang Selirang, bangunan tempat tinggal yang diperuntukkan bagi para abdi dalem yang mengurusi mesjid. Seperti umumnya mesjid-mesjid tua di Jawa, di bagian belakang Mesjid Agung Surakarta juga terdapat kompleks pemakaman. Salah seorang keturunan Susuhunan yang dimakamkan di kompleks pemakaman ini adalah KPH. Noto Kusumo yang merupakan putera Paku Buwana III.


3.4 Pengaruh Seni Arsitektur Mesjid Agung Surakarta Terhadap Daya Tarik Wisatawan Mancanegara
Mesjid Agung Surakarta merupakan satu dari sekian mesjid peninggalan sejarah yang mempunyai keindahan dari segi seni arsitekturnya. Hal tersebut dapat dilihat dari gapuran yang berwarna putih dan juga menara adzan setinggi 25 meter, yang mengambil gaya kutub Minar di India. Semua itu dapat berpengaruh positif terhadap daya tarik wisatawan yang datang ke Mesjid Agung Surakarta. Mesjid Agung ini meskipun usianya sudah mencapai 250 tahun lebih. Namun kayu-kayu yang menompang Mesjid Agung tersebut masih terlihat kokoh. Maka dari itu keindahan seni arsitektur tersebut harus dijaga sebaik mungkin, agar minat para wisatawan yang datang berkunjung tidak berkurang.














BAB  lV
PENUTUP
4.1    Kesimpulan
Setelah penulis menyelesaikan penyusunan paper ini bab demi bab, maka dapat ditarik kesimpulannya, diantaranya :
a.    Arsitektur Mesjid Agung Surakarta memiliki pembagian ruang yang mirip dengan rumah-rumah Jawa Klasik, oleh karena itu Mesjid Agung Surakarta dikategorikan sebagai Mesjid Tradisional. Elemen hias yang digunakan pada Mesjid Agung Surakarta dominan menggunakan bentuk motif hias flora, terdapat pada elemen membentuk ruang dan pengisi ruang. Seni Arsitektur Mesjid Agung Surakarta sendiri dari gapura berwarna putih yang mengambil gaya Timur Tengah, dan juga menara mesjid dengan gaya kutub Minar di India, mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Mesjid Agung Surakarta. Baik itu untuk kunjungan wisata ataupun untuk beribadah.
b.    Seni Arsitektur Mesjid Agung Surakarta berpengaruh positif terhadap daya tarik wisatawan mancanegara.
4.2    Saran
Adapun saran yang dikemukakan penulis, diantaranya :
a.    Kebersihan disekitar komplek Mesjid agung Surakarta harus lebih ditingkatkan terutama kebersihan tempar berwudlu.
b.   Menjaga dan merawat keindahan seni arsitektur Mesjid Agung Surakarta agar minat para wisatawan tidak berkurang.
c.    Menjaga sarana dan prasarana yang ada agar para wisatawan yang datang merasa nyaman.


DAFTAR PUSTAKA
Adnan, H. A. Basit.2010.Sejarah Masjid agung dan Gamelan Sekaten di Surakarta. Surakarta : Yayasan Mardikintoro
Listiyani, Dwi Ari.2010.Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI.Bandung : Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional
Muin, Idianto.2006.Sosiologi Kelas XI.Jakarta : Erlangga

No comments:

Post a Comment